Paskah dan Makna Kebangkitan yang Menyentuh Iman Umat Kristiani
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Hari ini, Jumat (3/4/2026), umat Kristiani memperingati Jumat Agung sebagai bagian dari rangkaian menuju Paskah. Tahun ini, Paskah jatuh pada Minggu (5/4/2026), menjadi puncak perayaan yang sarat makna spiritual bagi umat di seluruh dunia.
Paskah sendiri merupakan peringatan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian setelah penyaliban. Peristiwa ini diyakini terjadi tiga hari setelah wafat-Nya, dan menjadi dasar utama iman Kristiani, sekaligus simbol kemenangan atas dosa dan kematian.
Namun, di balik perayaan penuh sukacita ini, terdapat lapisan makna yang lebih dalam. Paskah tidak hanya berbicara tentang kebangkitan, tetapi juga tentang pengorbanan, harapan, dan pembaruan hidup yang menjadi refleksi spiritual bagi umat yang merayakannya.
Secara historis, Paskah memiliki akar dari tradisi Yahudi kuno yang dikenal sebagai Paskah Yahudi atau Pesakh, yakni perayaan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Makna “melewatkan” dalam tradisi ini merujuk pada perlindungan Tuhan terhadap umat-Nya dari tulah terakhir.
Seiring perkembangan zaman, makna Paskah dalam tradisi Kristiani bertransformasi menjadi peringatan kebangkitan Kristus sebagai bentuk penebusan dosa manusia. Dari sinilah Paskah dipandang sebagai lambang kehidupan baru dan harapan akan kehidupan kekal.
Di permukaan, Paskah sering kali identik dengan simbol-simbol seperti telur dan kelinci. Telur melambangkan kehidupan baru, sementara kelinci menjadi simbol kesuburan dan pembaruan, yang berkembang dari budaya Eropa dan kemudian melebur dalam tradisi modern.
Lebih dalam lagi, Paskah menjadi bagian dari perjalanan spiritual umat yang diawali dari masa penderitaan hingga menuju kebangkitan. Rangkaian peringatan seperti Pekan Suci menggambarkan proses tersebut secara utuh, dimulai dari Jumat Agung hingga hari kebangkitan.
Tak hanya itu, penentuan tanggal Paskah juga memiliki keunikan tersendiri. Berdasarkan keputusan Konsili Nicea, Paskah ditetapkan berdasarkan siklus bulan dan matahari, sehingga tanggalnya berubah setiap tahun.
Pada akhirnya, Paskah bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi refleksi mendalam tentang pengorbanan, kemenangan, dan harapan baru, sebuah pesan universal yang terus hidup dan relevan lintas zaman. (Zii)






