Minimalisir Aksi Perundungan Lingkup Pelajar, Pendidikan Pancasila Sebagai Ujung Tombak

Caption Foto : Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fahlevi

Samarinda – Maraknya kasus perundungan yang terjadi dilingkup pelajar, mendapat perhatian dari Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fahlevi.

Menurut legislator yang akrab disapa Reza itu, perundungan tidak hanya secara langsung, tetapi juga terjadi di sosial media (medsos).

Hal ini diakuinya kerap terjadi karena kurangnya pemahaman pelajaran pancasila dan kepedulian orang tua kepada anaknya.

“Salah satunya tidak adanya pelajaran tentang Pancasila, dalam sistem pendidikan. Ini diperparah dengan kurangnya peran orang tua dalam pengawasan tumbuh kembangnya anak-anaknya, sehingga anak kehilangan pedoman moral,” ungkapnya.

Lebih lanjut, politisi Gerindra itu menekankan kepada orang tua, pentingnya memberi kepercayaan kepada guru saat anak-anak berada dalam lingkungan sekolah. Dan saat di rumah, orang tua yang berperan memberikan nilai-nilai moral dan mendampingi perkembangan anak dengan penuh kasih sayang.

“Kerja sama antara guru dan orang tua sangat penting dalam upaya pembentukan karakter anak,” tuturnya.

Untuk mengatasi permasalahan perundungan, Reza lebih menitikberatkan pada perlunya menghidupkan kembali profil pelajaran Pancasila dan moral dalam sistem pendidikan. Jika tindakan itu dilakukan di lingkup sosial media, maka perlu peran dari pemerintah juga untuk mengawasi akun-akun yang melakukan tindakan perundungan.

“Dengan mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam kurikulum, guru dan orang tua dapat bekerja sama dalam membentuk karakter anak-anak yang kuat dan mengurangi kasus bullying di masyarakat. Selain itu, pemerintah dan orang tua juga diharapkan mampu melakukan pengawasan kepada akun-akun sosial media untuk menghindari terjadinya perundungan digital,” tutupnya.