Dewan Pertanyakan Soal Kelangkaan BBM, Diduga Tak Tepat Sasaran
Samarinda – Komisi II DPRD Kaltim melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan di Balikpapan, baru-baru ini.
Kunker yang dipimpin Ketua Komisi II DPRD Kaltim Nidya Listiyono didampingi Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud. Dalam kunker tersebut, rombongan Komisi II diterima EGM Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Alexander Susilo.
Tampak hadir dalam kunker, Anggota Komisi II DPRD Kaltim Selamat Ari Wibowo, Ely Hartati Rasyid, Encik Wardani, Ambulanci Komariah serta Sapto Setyo Pramono.
Kunker tersebut dimaksudkan untuk membahas program kerja strategis PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, dalam penentuan kuota, distribusi dan ketersediaan BBM di wilayah Kaltim menjelang akhir tahun 2023 dan awal tahun 2024, kemudian peluang kerjasama antara PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan dengan Perusda di Kaltim.
Pada kesempatan itu, Nidya Listiyono mempertanyakan terkait kuota dan pendistribusian BBM pada wilayah Kaltim.
“Kalau bicara kuota, saya pikir pasti sesuai dengan ajuan, cuma mungkin adalah menjadi tepat guna atau sasaran tidak sebenarnya alokasi BBM ini yang kemudian menjadi isu setiap tahunnya. Terkait distribusi, pasti ini ada disparitas harga,” ujar pria yang biasa disapa Tio ini.
Kemudian Ia juga meminta informasi dan solusi konkret dalam waktu dekat agar persoalan BBM ini dapat diatasi dalam jangka waktu yang cepat.
“Mungkin perlu duduk juga dengan pemerintah kabupaten yang menerapkan kebijakan-kebijakan yang mungkin bisa bertentangan dengan MOR VI. Nah, kami akan memfasilitasi kalau memang diperlukan akses untuk mengkolaborasi dan mengakselerasi kebijakan-kebijakan,” tuturnya.
Menanggapi hal tersebut, Alexander Susilo mengatakan selain adanya isu akan dihapusnya Pertalite juga terhadap adanya bahasa kelangkaan yang menyebabkan masyarakat terpancing dan panik.
“Bahasa kelangkaan ini memancing masyarakat. Dari kita kalau dulu lapor ke PPH migas dan ke BPK ketika pemeriksaan, yang namanya langka itu antre karena gak ada. Sementara yang terjadi di kita itu antrenya itu antre ada sebenarnya, bukan tidak ada. Itu bukti secara psikologis membuat masyarakat panik, mungkin psikologisnya karena ada spekulan yang ikut-ikut antre,” jelasnya.
Menurutnya, langkah sementara untuk mengatasi antrean pertalite pada tempat-tempat yang berperan dan mengganggu adalah mengosongkan pertalite.
“Dan sebetulnya belum ada kebijakan tentang pembatasan. Pembatasan itu cuma untuk mengurangi antrean, bukan karena barangnya terbatas,” tandasnya.






