Fenomena Menunda Tidur Diam-Diam Menghantui Gen Z
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Jam sudah melewati tengah malam. Mata terasa berat, tetapi jari masih terus menggulir layar ponsel. Satu video lagi, satu unggahan lagi, atau satu episode lagi. Bagi sebagian orang, kebiasaan ini terasa biasa. Namun di balik kebiasaan tidur larut yang berulang, terdapat fenomena yang kini banyak dibahas, yakni revenge bedtime procrastination.
Fenomena ini merujuk pada kebiasaan sengaja menunda waktu tidur untuk mendapatkan kembali waktu luang setelah seharian dipenuhi aktivitas. Istilah tersebut banyak dikaitkan dengan generasi muda, termasuk Gen Z, yang menjalani ritme kehidupan padat antara pekerjaan, pendidikan, hingga tuntutan sosial di dunia digital.
Alih-alih langsung beristirahat setelah aktivitas selesai, sebagian orang memilih menghabiskan waktu malam untuk melakukan hal-hal yang dianggap menyenangkan. Mulai dari menonton video, bermain gim, membaca, hingga sekadar menjelajahi media sosial tanpa tujuan tertentu.
Secara sederhana, perilaku ini muncul bukan karena seseorang tidak mengantuk, melainkan karena ada keinginan untuk mengambil kembali waktu yang terasa “hilang” sepanjang hari. Malam kemudian menjadi ruang pribadi yang dianggap bebas dari kewajiban dan tekanan.
Pada Gen Z, kebiasaan tersebut semakin mudah terjadi karena kehidupan digital menjadi bagian dari keseharian. Ponsel yang selalu berada dalam genggaman membuat batas antara waktu bekerja, belajar, hiburan, dan istirahat menjadi semakin tipis.
Di sisi lain, aktivitas malam hari sering kali memberikan rasa tenang. Tidak ada pesan pekerjaan yang masuk, tidak ada tugas mendesak, dan suasana sekitar cenderung lebih sepi. Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa memiliki kendali penuh atas waktunya.
Namun, kebiasaan menunda tidur secara terus-menerus dapat memengaruhi pola istirahat. Waktu tidur yang berkurang dapat membuat tubuh merasa lelah pada keesokan hari, menurunkan konsentrasi, serta memengaruhi suasana hati.
Tak sedikit orang yang akhirnya terjebak dalam siklus berulang. Siang hari terasa lelah akibat kurang tidur, sementara malam berikutnya kembali digunakan untuk mencari waktu luang yang tertunda.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan padat, fenomena revenge bedtime procrastination memperlihatkan satu hal sederhana: terkadang seseorang bukan kekurangan waktu tidur, melainkan merasa kekurangan waktu untuk dirinya sendiri.
Malam yang awalnya dicari sebagai ruang kebebasan, pada akhirnya bisa berubah menjadi hutang waktu yang diam-diam dibayar tubuh setiap harinya. (Zii)






