Konsumsi Gula Berlebih Dikaitkan dengan Perubahan Suasana Hati, Ini Temuan Penelitian
Mediamahakam.com, KUTAI KARTANEGARA – Makanan dan minuman manis sering menjadi pilihan banyak orang saat ingin memperbaiki suasana hati. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih justru dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews menemukan bahwa konsumsi minuman tinggi gula tidak selalu meningkatkan suasana hati. Sebaliknya, para peneliti menemukan adanya penurunan tingkat kewaspadaan dan peningkatan rasa lelah dalam waktu sekitar satu jam setelah mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi.
Temuan tersebut menantang anggapan populer bahwa makanan manis mampu memberikan dorongan kebahagiaan yang bertahan lama. Para peneliti menyimpulkan bahwa efek positif gula terhadap suasana hati cenderung lebih kecil dari yang selama ini dipercaya masyarakat.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports juga menemukan hubungan antara konsumsi gula yang tinggi dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati dalam jangka panjang. Studi yang melibatkan ribuan partisipan tersebut menunjukkan bahwa pola makan tinggi gula dapat berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan munculnya gejala depresi beberapa tahun kemudian.
Para ahli menjelaskan bahwa lonjakan kadar gula darah setelah mengonsumsi makanan manis dapat memicu pelepasan hormon tertentu yang memberikan sensasi nyaman sementara. Namun ketika kadar gula darah kembali turun, sebagian orang dapat merasakan kelelahan, mudah tersinggung, atau penurunan energi.
Selain memengaruhi kadar energi, konsumsi gula yang berlebihan juga diduga dapat memengaruhi sistem peradangan dalam tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peradangan kronis memiliki kaitan dengan kesehatan mental dan regulasi emosi.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa gula bukan satu-satunya faktor yang menentukan suasana hati seseorang. Kualitas tidur, aktivitas fisik, tingkat stres, kondisi kesehatan, dan pola makan secara keseluruhan memiliki pengaruh yang jauh lebih kompleks terhadap kesejahteraan emosional.
Ahli gizi menyarankan masyarakat untuk tetap mengonsumsi gula dalam batas yang wajar sesuai rekomendasi kesehatan. Mengurangi minuman berpemanis, memperbanyak konsumsi buah, sayuran, dan sumber protein dapat membantu menjaga kestabilan energi sepanjang hari.
Dalam kehidupan modern yang dipenuhi makanan praktis dan minuman manis, kesadaran terhadap pola konsumsi gula menjadi semakin penting. Alih-alih mengandalkan makanan manis sebagai pelarian emosional, menjaga pola makan seimbang dinilai lebih efektif untuk mendukung kesehatan fisik sekaligus kesehatan mental.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara gula dan suasana hati jauh lebih rumit daripada sekadar anggapan bahwa makanan manis selalu membuat seseorang lebih bahagia. Dalam banyak kasus, keseimbangan konsumsi justru menjadi kunci untuk menjaga kondisi emosional tetap stabil. (Zii)






